Langsung ke konten utama

BIOLOGI SEBAGAI SAINS

BIOLOGI SEBAGAI SAINS


Biologi merupakan bagian dari sains, sehingga apa yang berlaku pada bidang sains juga berlaku pada bidang biologi. Kalau dalam sains dikenal adanya tiga aspek, yang memberikan corak tersendiribagi disiplin ilmu ini, ialah proses sains, produk sains, dan sikap sains, maka tentu tiga unsur ini juga dimiliki dan ditemukan dalam biologi. Proses sains mengarah pada suatu rangkaian langkah logis yang dilakukan oleh ilmuwan ketika ia ingin menjawab rasa ingin tahunya tentang alam, ketika ingin memperoleh solusi atas persoalan sains yang dihadapinya. Observasi, identifikasi masalah, perumusan hipotesis, melakukan eksperimen, pencatatan dan pengolahan data, pengujian kebenaran, serta menarik suatu kesimpulan merupakan contoh unsur proses sains yang sering dolakukan oleh ilmuwan dalam bereksperimen (Carin & Sund, 1989; Jinks J., 1997). 

 Melalui langkah-langkah proses sains, akan diperoleh sejumlah pengetahuan, sebagai produk sains. Hardy dan Fleer (1996)memahami sains dalam perspektif yang lebih luas. Menurut ahli sains ini, sains mempunyai beberapa pengertian dan fungsi, yang antara adalah 1) Sains sebagai kumpulan pengetahuan (body of knowledge), 2) Sains sebagai suatu proses, 3) Sains sebagai kumpulannilai, dan 4) Sains sebagai suatu cara untuk mengenal dunia. Sains sebagai kumpulan nilai, Hardy dan Fleer (1996) menekankan pada aspek nilai ilmiah yang melekat dalam sains. Ini termasuk didalamnya nilai kejujuran, rasa ingin tahu, dan keterbukaan saat dan setelah seseorang melakukan proses-proses sains. 

Einstein (1940) mempunyai pendapat yang sangat tegas mengenai sains, science is the attempt to make the chaotic diversity of our sense experience correspond to a logically uniform system of thought. Pendapat ahli fisika ini dapat dimaknai bahwa sains merupakan sebuah bentuk upaya/kegiatan yang memungkinkan dari berbagai variasi pengalaman inderawi mampu membentuk sebuah sistem pemikiran atau pola pikir yang secara rasional seragam. Pola pikir inilah yang kemudian dikenal dengan istilah berpikir ilmiah. Secara lebih ekstrim, Doran R. etal.(1998) melihat bahwa belajar sains bukan berupa mempelajari kumpulan pengetahuan, melainkan Learning science is something that students do, actively, not something that is done to them. Dalam belajar sains, siswa diajak untuk mengenal objek, gejala, dan permasalahan alam, menelaah, dan menemukan simpulan atau konsep-konsep tentang alam. Jadi, dalam pembelajaran sains, konsep-konsep sains tidak cukup hanya diperoleh siswa (secara instant) dari guru ataupun buku-buku, melainkan juga melalui kegiatan-kegiatan ilmiah atau proses sains (scientific process). Seperti sifat sains ini, biologi tidak hanya merupakan kumpulan pengetahuan (body of knowledge) tentang makhluk hidup dan kehidupannya saja, melainkan juga a way of thinking (cara untuk memeroleh pemahaman tentang makhluk hidup dan kehidupannya), serta a way of investigating (cara untuk penyelidikian). 

Bahkan, secara ekstrim, Brian Alters (Alters, 2005) mengusulkan agar materi pembelajaran biologi terutama di perguruan tinggi, mengakomodasi dan mengacu pada proses dan hasil riset-riset tentang biologi dan terkini. Namun tentu akan lebih baik jika materi pembelajaran mampu menjadi sarana untuk membangun kompetensi siswa secara utuh, pengetahuan, keterampilan, dan sikap.Melalui proses atau langkah-langkah sains itulah, seorang (subjek belajar) mampu membangun “satu set” sikap ilmiah yang meliputi rasa ingin tahu, ketekunan, ketelitian, kejujuran, keterbukaan, di sampingberbagai scientific skillseperti seperti kemampuan mengukur, berabstraksi, menggunakan simbol-simbol, mengkalkulasi, mengorganisasi, dsb. sehingga menghasilkan berbagai macam pengetahuan. Sikap sains yang merupakan bagian dari bangunan karakter, paling tidak dapat ditumbuhkembangkan dan bahkan diperkokoh dampak (tambahan) dari mereka belajar sains; sebagai nurturant effect. Makna nurturant effectbarangkali tidak terlalu tepat, namun sebagai gambaran, karena siswa sering difasilitasi melakukan pengamatan secara benar, maka di samping ia menemukan atau mengetahui sesuatu yang diamati, maka pada siswa tersebut juga terbentuk sikap cermat, teliti, dan jujur akibat terlatih bekerja dengan cermat dan teratur. Dalam hal ini, cermat, teliti, dan jujur merupakan dampak atau nurturant effect.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEL (Ruanglingkupbiologi-ireneyasinta)

Sel sebagai unit fungsional dan unit struktural terkecil pada organisme multiseluler akan selalu memperlihatkan ciri-ciri hidup, diantaranya adalah:  Mampu bereproduksi atau menghasilkan keturunan melalui pembelahan diri secara mitosis atau meiosis. Mampu memperoleh atau menghasilkan energi untuk kehidupannya melalui serangkaian proses respirasi sel di dalam mitokondria, energi ini berbentuk adenosin triphosphat (ATP).  Mampu memberikan respons/tanggapan terhadap stimulus/rangsang. Mampu melakukan pencernaan intra seluler (digestive) dan pengeluaran (ekskresi) melalui serangkaian. Mampu bertumbuh dan berkembang bahkan berdiferensiasi. Sel-sel anak hasil pembelahan sel (mitosis) akan tumbuh hingga mencapai ukuran tertentu, kemudian mulai berkembang, berdiferensiasi atau berspesialisasi (berubah bentuk menurut fungsi-fungsi tertentu). Sebagai contoh; di dalam tubuh manusia terdapat bermacam-macam sel yang berdiferensiasi menyusun suatu jaringan. Dari manakah berbagai macam...
Cabang Ilmu Biologi Objek kajian biologi meliputi manusia, hewan, tumbuhan, serta mikroorganisme yang dapat dilihat dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan bantuan alat, misalnya mikroskop. Biologi sebagai ilmu pengetahuan alam juga berkembang, sehingga objek kajian ilm u biologi semakin banyak. Para ilmuwan tidak sanggup lagi mempelajari secara mendalam seluruh kajian biologi sebagai satu objek studi yang akan dipelajari. Berdasarkan hal itu, maka ilmu biologi memiliki cabang ilmu spesifik dan objek kajian yang semakin khu sus untuk memudahkan cara pembelajarannya, mengingat pada umumnya seseorang hanya mampu mendalami salah satu cabang ilmu. Ibarat pohon, ilmu biologi memiliki cabang - cabang.

Organisasi Kehidupan Tingkat Molekul dan Sel

Organisasi Kehidupan Tingkat  Molekul dan Sel   Para ahli biologi telah mempelajari tingkat-tingkat organisasi ini selama berabad-abad. Dalam abad ini dimana alat dan teknik sudah canggih, para biologiwan dapat menyingkap lebih jauh ke dalam kerumitan benda-benda hidup. Mikroskop elektron salah satunya, yang dapat menyingkapkan derajat struktur sub selular (organel) serta organisasinya. Perhatikanlah gambar 2 berikut ini, mikroskop cahaya dapat memperbesar benda/objek hingga 2000 kali, sedangkan mikroskop elektron dapat memperbesar benda/objek hingga 500.000 kali. Dengan alat dan teknik kimia pun, struktur sub selular (organel) ini dapat dipisahkan lagi menjadi makro molekul, molekul yang lebih sederhana, bahkan hingga atomatom (proton, neutron, dan elektron) yang membangunnya. Telah diketahui bahwa salah satu ciri yang paling khas pada organisme hidup adalah bahwa organisme dibangun oleh molekul yang mengandung atom karbon (C = carbon), hidrogen (H), da...